Sabtu, 23 Februari 2008

Mereka Membuatku Mengeluarkan Uang Seribu

Pernah saya berpikir," bagaimana ya caranya berhemat di Ibukota?" Soalnya sampai saat ini saya betul-betul kebobolan...eits...kantong atawa pundi-pundi uang saya jebol melulu. Maunya sih ngirit naik bus, ternyata busnya mogok. terpaksa naik ojek atau ganti bus. Bayar lagiii...bayar lagiii.... Belom masalah pangan...fuihhh Jakarta memang punya semua. Mau jenis makanan apa, pasti ada saja. Cuma jangan tanya harga? Cek dulu sebelum beli. Teman magang saya selalu melakukannya. Sebelum memesan makanan di warung tenda dia selalu tanya," ayam bakar berapa pak?nasinya berapa?" Tips itu saya ikuti juga akhirnya..Penting bow! soalnya, es teh pake manis atau gak aja dah beda harga. Nasi putih atau air putih sama-sama dikasih tarif. Jakarta...Jakarta.... Yang bikin pengeluaran tak terasa itu ya bus kota itu. Naik bus sekali jalan sih sudah jelas 2ribu. Tapi kalau ada yang minta-minta?atau ada penjual tissue bermuka melas?atau ada pengamen? Nah, yang terakhir ini patut dipersoalkan. Gak semua orang bisa nyanyi. Kalau lihat acara Mamamia Seleb Show, pasti tau alasan kenapa si Bedu milih ngelawak daripada nyanyi. Atau si Adly Fairus milih jual tampang via sinetron atawa iklan daripada jual suara. Yap! pada gak bisa nyanyi Bos! Biarpun kata pelatih nyanyi sekaliber Hetty Koes Endang bilang yang penting orang gak buta nada, tetep aja susah buat bisa menyanyi sebuh lagu dengan benar. Apalagi buat pengamen jalanan, kadang orang kan mengeluarkan receh karena gak tega suara si anak udah gak nyampe nada si ketimbang kualitas nyanyinya. Pake ngos-ngosan gitu...sela...yak...nya..hhh..kau..pun..ta..hu..beta..pa engk..au..ku..hhh... uuuhhhh...tidak tegaaaa!!! Nah, suatu kali, aku sudah bertekad bulat penuh semangat. Aku gak mau ngasih! titik! duit dah mepet nih. Tinggal ongkos pulang sama sedikit camilan ringan. Pulang kerja, dah capek berat....maunya cepat-cepat! Begitu bus yang menuju Kampung Rambutan kelihatan, semangat juang membuatku berlari-lari mengkaitkan tangan di pegangan. Begitu masuk, ada 3 orang anak muda yang lagi ngamen. Aku cuek aja sambil milih tempat duduk. Tapi...... Begitu dengar lagunya...hikz..hikz...mbrambangi.... lagunya Ebiet G.Ade mengumandang merdu gitu.."...aku ingin pulang..." ooohh....batal deh niatku! Sudah gitu, lagu itu disusul lagu barat lawas yang aku lupa judul sama penyanyinya...tapi ada lirik seperti ini.." you know where you have start..." Gila ni musisi jalanan! suara mereka gak sekdar mencari receh, tapi mereka betul-betul nyanyi! Menurutku, kalau ada yang aku suka dari Ibukota, aku suka pengamennya...tapi yang di bus patas sih....soalnya mereka selalu menyanyi lebih dari 3 lagu. Dan mereka berhasil....membuatku mengeluarkan uang seribu!

Jumat, 22 Februari 2008

Kalau Kamu Berangkat di Atas Jam Tujuh

Kalau kamu berangkat di atas jam tujuh, cuma macet dan macet yang kamu temui. Malah bikin stess. Asap dan debu, belum lagi kuping jadi tuli. Pengendara di Jakarta sih gak peduli akibat mengklakson kencang-kencang. Lempeng aja gitu! Peduli setan! Mau pada budeg biarin aja! yang penting bisa marah-marah via klakson. Wah..wah...manajemen stres yang buruk....pantesan pagi-pagi muka orang-orang itu sudah tertekuk-tekuk. Persis mainan karet yang bisa dilipat sesuka hati. Duh...kasihan paru-paruku, bukannya aku pasok oksigen, malah aku kasih si monoksida. Semenit aja melewati kendaraan-kendaraan itu, serasa pakai masker lumpur! Heran deh...kok pada betah ya hidup di Jakarta? Otot muka gak bisa rileks, pikiran harus fokus dan gak boleh lengah, dududu...tegang bow! lebih tegang nyebrang di Jakarta daripada nonton Pocong Jadi Dua....Hahahaha! emang ada gitu? Pantes...pada sensitif semua...otot-otot syarafnya pada tegang gitu..senggol dikit, bacok! kayak kena setrum kali yaaa... Belom lagi deg-degan...kapan ya bakal sampai?..hohoho...Sampai kantor tepat waktu itu sama gak pastinya dengan ada atau gak alien di bumi. Tidak ada yang menjamin Bung! Semua bisa terjadi. Kemarin aja aku pikir bakal sampai lebih awal di rumah....ehh...Bus patas yang panas itu mogok! Astaganaga...kok bisa? dah gitu, tetep bayar 5ribu...huuuu gak mau rugi yaaa!Dasar! Sopir dan knek di kendaraan umum Jakarta emang gak punya etika! main serobot aja. peduli setan penumpang mau celaka! setoran...yang penting setoran...

Makhluk Manis dalam Bis

Eiitss....gak cuma cowok aja yang berhak lihat-lihat cewek cantik di Mal atau area umum lainnya. Saya juga berhak dong! Hehehehe...sekali-sekali deh cowok jadi objek pandang cewek...hahahaha!! Saat perjalanan pulang yang lumayan lebih siang dari biasanya itu...saya melihat sesosok makhluk manis! hahahha!!!Perasaan dongkol karena keinjak-injak dan terpelanting kesana-sini karena sopir Buswaynya ngawur lenyap! Si cowok manis itu berdiri bersandar di dekat pintu tepat arah jam 11 dari posisi saya berdiri! Hahahaha! puas-puasin deh ngeliriknya...toh dia gak bakal tahu. Atau mungkin dia juga tahu, tapi pura-pura aja gak tahu...stay cool..... Wah, kehadirannya langsung menerbitkan matahari di hari saya! Malah dalam hati saya berharap dia turun di halte yang sama dengan saya...OMG! keinginan itu terkabul!!! Kami sama-sama turun di halte itu. Sayang...dia berjalan cepat sekali. Dalam sekejap, "makhluk manis" itu sudah tertelan warna biru angkot 06 yang antri di jalanan..

Kebaikan Kecil di Jakarta

Rasanya nyaris gak percaya...Ooo masih ada toh kebaikan di ibukota? Bukannya semua tindak kebaikan pasti ada maksudnya? "Ni pasti ada apa-apanya nih!" kata orang. Bahkan semua tindak penipuan pasti melenakan karena didahului dengan kebaikan. Motor lewat bilang ban mobil kita kempes, padahal niatnya rampok. Atau ada yang kasih minum karena katanya kasihan lihat kita haus, padahal mau bius. Tapi beneran masih ada loh kebaikan di Ibukota ini...yang katanya lebih kejam dari ibu tiri hehehe.. Suatu kali saya sedang sial, bangun kesiangan jam 6 (jam segitu harusnya saya sudah berangkat), masih harus ambil ATM dan berangkat lewat perempatan Pasar Rebo. Jam 7 itu sudah kayak batas akhir gak kena macet di Jakarta. Audjubileee....muacet! Saya menunggu Metromini 76 yang akan membawa saya ke arah Blok M. Hingga jam 8 lebih saya masih menunggu, dilewati 5 Metromini yang terlanjur penuh. Akhirnya ketika ada lagi, saya paksa masuk. Saya masuk dari pintu sopir. Di dalam orang-orang sudah berhimpitan, bahkan ada yang duduk di dashboard atau berbagi kursi dengan pak sopir. Persis kaleng kerupuk...tapi kaleng kerupuk pun masih mendingan. Lalu, ketika terguncang-guncang dan melaju lambat secepat siput berlari, keringat saya pun bercucuran. Saya emang gampang keringetan. Eh, ibu yang duduk di dashboard membuka-buka tasnya, seolah mencari sesuatu...lalu ia mengeluarkan selembar tissue yang ia berikan pada saya. Wah...hati saya langsung menghangat menerima kebaikan kecilnya itu. Saya hanya mampu membalas ucapan terima kasih dan senyum atas perbuatan tulusnya itu. Dan ia masih memberi saya tissue lagi dari kemasan yang belum dibuka beberapa saat kemudian. Ia melihat tissue yang ia berikan sudah basah dan tak bisa dipakai, lalu ia beri lagi untuk saya. Seandainya saya membawa tissue atau setangan sendiri, tentu saya tak akan sempat menikmati kebaikan kecil pagi itu...

Unbelievable Jakarta!

Jakarta memang hebat! siapa sih yang tidak terkagum-kagum karenanya? Nyaris tak kutemukan satu sudut nyaman di Ibukota negara ini. ASTAGA! Anda ingin tertabrak? jadilah pejalan kaki yang baik di Jakarta. Seperti yang saya alami pagi ini. dengan niat baik memposisikan diri sebagai orang yang benar, saya menyeberang di Zebra Cross. Hmm...rupa-rupanya penduduk Jakarta tak mengenal tanda jalan yang satu ini. Saat saya menyeberang dengan hati-hati, seorang pengendara motor membunyikan klakson yang dapat membuat orang tuli mendengar lagi. Anehnya, ia melotot pada saya. Seolah si motor biker itu marah karena saya menghalangi jalannya. Kontan, saya melotot balik padanya. Saya kirim pesan bisu bahwa ia yang harusnya menghormati saya, bukankah saya menyeberang tak sembarangan? Bukankah saya sudah memberi tanda akan menyeberang dan melalui jalur menyeberang yang benar? Unbelievable Jakarta! Dan sepertinya warga Jakarta terlalu nyaman untuk meludah sembarangan. ASTAGA! setiap hari saya pasti menemukan orang sedang meludah sembarangan. Mereka benar-benar jorok! bahkan di dalam bus dan angkot! Unbelievable Jakarta! Saya sempat berpikir bahwa sampah adalah masalah utama kota ini. Setiap orang tak merasa perlu untuk berjalan dan membuang sampahnya ke tong sampah. Buang sana, buang sini! Mungkin kalau dikumpulkan, sampah Jakarta sudah bisa bikin propinsi sendiri. Pernah saya melihat, seorang ibu dan anak di angkot. Anaknya sedang makan mie instan yang dijual dalam wadah sterofoam (yang sudah dilarang dan terbukti tak dapat didaur ulang). Setelah makan, si anak menyerahkan wadah pada ibunya, tapi si ibu malah menukas, "Udah buang aja keluar" setelah itu wadah dibuang lewat pintu angkot yang sedang berjalan. Lalu si ibu mengelapkan mulut si anak pada lengan baju anaknya, "sekalian kotor", kata si ibu. Ckckckc....WOW! Apakah mereka tak berpikir bahwa tanah yang mereka tempati ini juga wajib mereka pelihara? Siapa sih yang mereka suruh pelihara? pemerintah?pembantu? Wong rumahnya sendiri kok gak mau jaga.... Dan mereka sungguh bangga disebut sebagai warga Jakarta...."Pokoknya kita kan canggih, metropolis,modern...yang lain kampungan...selain Jakarta, semua adalah daerah" hehehee...bukannya Jakarta itu juga daerah? Daerah Jawa Barat dan sekitarnya..hehehheheeh Jakarta memang punya segalanya, kecuali tata krama dan rasa peduli sesama.

Minggu, 17 Februari 2008

Gerimis Minggu Pagi di Tengah Februari

Huaaahem.... Minggu sudah datang! seperti pemimpin hari, ia yang akan menentukan hari-hariku esok. Malasnya...padahal aku sudah tidur seharian sejak Sabtu. Pagi ini dingin. Aku kenakan kaos kaki sebelum tidur malam tadi. Rencana-rencana kemarin sudah siap dilaksanakan hari ini. Baiklah! Bangun donk Elga! Ayo Banguuuun.... Mandinya cepet aja! gak usah lama-lama... cepat ganti baju lalu berangkat ke Gereja. Hari ini kamu sendiri loh yang akan kesana...setelah itu bukannya kamu mau kemana-mana? Hari ini aku ada janji bertemu teman baru. Dikenalkan sama Stella, namanya Mbak Dian. Aku mau lihat CD Musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang dia pamerkan (Huh! dasar!) Aku memang sial, kemarin aku batal menonton Pak Sapardi baca puisi. Padahal aku belum tentubisa ketemu suatu waktu. Tapi Minggu ini akhirnya aku bisa dengar isi CDnya. Seperti yang aku bayangkan, musiknya indah seperti puisi Pak Sapardi. Ada puisi yang aku suka dari kumpulan puisi "Hujan Bulan Juni" Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi Siapa yang tak ingin? kadang hujan membawa bermacam campuran perasaan. Sedikit melangut sendu takkan menghanguskan jiwamu. Siapa juga pasti pernah resah. Tapi tak ingin ada siapapun ikut urun. Aku pernah merasa begitu. Saat aku dikhianati dan dibohongi. Tak ingin berbagi. Hanya ingin menikmati sendirinya sepi dalam rintik-rintik pagi. Dan Minggu sudah bertamu. Bukannya ia sudah lama kutunggu? perlu 24 jam dikali 6 hari sekedar menunggu Minggu. Jadi, kubebaskan diriku hari ini. Melancong tanpa metromini yang sesak sempit di hari biasa. aku siap melanglang Jakarta!

Sabtu, 16 Februari 2008

Istirahat adalah bagian dari Berkarya

quote yang jadi judul posting ini adalah milik salah seorang teman.... tapi maknanya terasa sekali saat ini. Siapa bilang kerja keras tak perlu waktu rehat? justru saya mendapati bahwa inspirasi justru datang di awal hari, ketika terbangun dari tidur nyenyak semalam. Asalkan tak langsung mencelat saja dari tempat tidur untuk terburu mandi tanpa sempat gosok gigi dan berlari kejar-mengejar metromini. Sekarang saya mendapati diri saya semakin menyerupai warga ibukota. tak diam untuk merenung sejenak. tak ada waktu. bahkan untuk makan atau sarapan. buru-buru. lari-lari. gegas-gegas. itulah yang selalu saya rasakan di ibukota. sedikit maksa memang, tapi saya sudah terkena virus itu. Mungkin itu yang menyebabkan perasaan saya tak seimbang dari hari ke hari. Batin saya selalu dipenuhi emosi. "Senggol, bacok!" seperti sudah jadi santapan harian. Bagaimana tidak? saya habiskan waktu 2 jam di jalan sekedar menempuh perjalanan pulang. Busway yang telat: saya menunggu 1 jam lebih hanya untuk mendapati diri saya berdesak-sesak di Bus Trans itu tanpa pegangan dan tergencet rapat. Belum lagi asap dan debu di jalanan. Lalu kecemasan apakah hari ini akan ada tindak kejahatan? Ketika tiba akhir pekan, saya seolah mendapat undian! saya gunakan kesempatan langka itu untuk tidur sepuasnya. Lalu, apakah itu produktif? tidak. batin saya sesak, pikiran saya penuh. karena banyak tugas di akhir minggu: setrika, mencuci, dan lain-lain. Saya sudah lupa nikmatnya menikmati hari. membaca buku di sela hari, berfantasi melalui mimpi, menulis imajinasi, atau sekedar menikmati secangkir kopi dan memandang jendela, menerawang hari. Saya lupakan itu untuk saat ini. hingga akhirnya saya harus mengerti, bahwa saya harus memilih. inikah yang saya inginkan? rasanya hal itu akan selalu saya pertanyakan.

Jumat, 15 Februari 2008

Jalan Panjang Menuju Mimpi

Sekarang adalah Jumat. Hari terakhir untuk bekerja buat kebanyakan orang. Tapi hari ini aku masih masuk kantor. hmm...gak ada kerjaan sih, tapi masuk aja. Emang aku udah kerja? gaak...belom. Sekarang lagi KKL aja di surat kabar harian ibukota. Berhubung ada sedikit jeda antara waktu kerja, aku pengen berjalan lagi ke masa lalu.... Kelas Bahasa, suatu waktu. Tadinya aku menolak setengah mati kenyataan bahwa aku gak pantas masuk kelas IPA, kurang nilai 0,2 untuk rata-rata matematika. ya sudah, aku nyasar ke Bahasa jadinya. Setelah lama berada di kelas gila ini, aku mulai ikutan gila Sastra. Malah aku jadi murid kesayangan Bu Edin yang terkenal super jutek, dingin, judes, dan galak. Entah kenapa, ketika semua murid gak suka, aku malah jadi memuja dia. Mungkin aku emang suka yang beda. hahahahah! Lalu, keinginan itu datang pada suatu waktu. Aku ikut asik lihat majalah remaja punya temanku, lalu aku berandai-andai..."hmm...kayaknya enak juga kerja di majalah ya? kerjanya fun! tidak terikat jam kantor dan gak melakukan rutinitas membosankan.." Dan aku pun mulai cari informasi, gimana caranya, aku bisa kerja di majalah remaja. Oh, ternyata ambil jurusan jurnalistik, soalnya majalah kan termasuk media. oke! aku mau ambil jurusan jurnalistik. tapi dimana donk? sebenarnya aku mau coba kota lain selain Jogja tercinta. lalu kupikir, Bandung asik juga...gimana kalau Unpad? Waduw...ternyata Unpad ada di Jatinangor...oh...aku gak siap untuk adaptasi baru...hmmm..gimana kalo Undip? di semarang? oke aja...tapi...Semarang panas bos! lagian, 2 universitas itu pakai tes UMPTN..wahh...males banget saingan sama ribuan orang.. (tapi kalo dipikir-pikir lagi, aku rada nyesel loh gak masuk Univ Negeri, Swasta mahal jenk!!!) Yasudlah...akhirnya aku masuk Atmayaya..eh Atmajaya Jogjakarta! tetap...gak mau pisah sama Jogja...terlanjur cinta saya! Nah..disini aku mulai kecele, baru sadar aku, kalo mau kerja di majalah, ya belajar di dunia kreatif donk! bangsanya sastra, grafis, atau mode...lah ini? aku malah dididik ala idelisme pers! O mi got! aku bakal diterjunkan ke dunia pers toh? yah...sedikit-sedikit idelismeku juga ikut berubah...tetep pengen sih kerja di majalah, tapi....kayaknya koran oke juga. Lhadalah...disinilah aku sekarang...Tet tooot!! di ruang kantor berita punya tempat magangku. Baru 2 minggu belajar disini, tapi aku dah tahu banyak tentang dunia wartawan..ya intrik, ya saingan, ya cepet-cepetan, ya manis-manis muka pahit-belakang, hmmm....apa aku masih ingin disini? kok baru 2 minggu aja staminaku dah nge-drop ya??? wiii...jangan tanya, aku dah minum semua multivitamin! aku minum madu juga, dan makan 3x sehari. kurang apa? Yap! kayaknya aku kurang semangat nih.... hiks...soalnya laporanku gak pernah dimuat! hahahahah!!! aku ditaruh di desk Nasional.. jumpa pers, Seminar, jumpa pers, Rapat kerja...yah gitu aja...tapi aku gak nguasai masalah sih...jadi agak berat. Dan ketika di lapangan, aku gak cuma nemu 10 wartawan, tapi bisa belasan lebih! dan mereka gak dari media yang sama....jadi kebayang donk kayak apa rasanya? aku nyaris krisis pede dan rasa-rasanya bekal kuliahku gak cukup! That's not enough at all! tapi aku masih mau buktikan kemampuanku.... kayaknya jalan menuju impianku jadi wartawan masih puangjaaang nih....pokok'e harus tetap Kukuh sama pilihanku ini! maunya sih gak dengar apa kata orang....entahlah.